Buku Bagus yang harus ada disetiap rumah, disetiap tas para remaja dan orang muda. Berharga sebagai kado perkawinan, hadiah ulang tahun, naik kelas, lulus sekolah dan lainnya.
Buku tuntunan melangkah dalam hidup ini.

Harga Rp.100.000,- per exp. ( + ongkos kirim ) 

dijual ekslusif, hubungi

Rational Thingking Surabaya
Jl. Jawa 2 Surabaya
Telp. 031-5014922
Email : This e-mail address is being protected from spam bots, you need JavaScript enabled to view it

Rational Thinking pwk Jakarta
Jl Semangka 31, komplek Kalibata Indah Jaksel
Telp. 021-7988204
Email : This e-mail address is being protected from spam bots, you need JavaScript enabled to view it

 

Subcription Form






Lost Password?
No account yet?

Bila anda mengisi
Register pada
Subcription Form,
akan mendapat
email pemberitahuan
artikel baru dari kami.

If you fill in the
Registration on the
Subcription Form,
you will receive 
emails announcing new
articles from us.

 
Home
Preview

Secara periodik di website ini akan ditayangkan buah pikiran atau artikel baik yang baru maupun yang sudah pernah diterbitkan. Para pengunjung diberi kesempatan untuk memberikan komentarnya.

 Djohansjah Marzoeki


+ Guru Besar Ilmu Bedah Plastik

+ Menggalakan berpikir ilmiah untuk kepentingan publik

+ Pengarang buku "Budaya Ilmiah & Filsafat Ilmu"

+ Pendiri "Rational Thinking"

 

Rational Thinking

Mensponsori dan memandu "Debat Rasional" disekolah / perguruan tinggi dan Organisasi/Institusi.

Befikir Rasional untuk mencari :

1. Benar dan salah
Valid
dan tidak valid

2. Berguna (efektif) atau tidak berguna
Perlu
dan tidak perlu

3. Penting dan tidak penting

 

Berfikir Emosional, karena keluar dari :

1. Selera, suka tidak suka, marah, benci, sakit hati, sayang, jahat, baik, buruk.

2.Takut, hormat, sungkan.

3. Kepercayaan.

 Perlu Bantuan Menggelar Debat Rasional Klik Disini

 

 

Masalah Publik             Masalah Personal
 Adalah Masalah Yang dibutuhkan semua orang dalam ranah publik, lintas kelompokAAdalah masalah yang hanya diperlukan oleh dirinya sendiri, atau kelompoknya sendiri.

 

 


Kapan Kita Boleh Menyalahkan  dan  Menghina ?
Djohansjah Marzoeki




Masih banyak orang yang tidak dapat membedakan antara Menyalahkan dan Menghina, sehingga menyalahkan, dianggap sekaligus menghina. Padahal maunya hanya menyalahkan dan sama sekali tidak bermaksud menghina. Itu terkait dengan belum bisanya membedakan dalam menerima  pendapat mana yang rasional dan mana yang emosional.

Pendapat emosional adalah pendapat yg keluar karena suka tidak suka, baik buruk, benci sayang, marah hormat, takut berani. Sedangkan pendapat rasional, adalah pendapat yang  menyoalkan benar dan salah, berguna tidak berguna, penting dan tidak penting.
 Jadi kedua macam pendapat itu mempunyai dasar berfikir yang berbeda dan mempunyai pula dampak yang berbeda.

Misalnya 10 ditambah 5 , dijawab 13. Itu salah atau tidak benar. Mengatakan salah disini bukan mau menghina atau membenci tetapi hanya menyampaikan fakta kalau itu salah.

Ada yang bilang 'Benar dan salah itu kan relatif tergantung orangnya !'
 Bukan!  Benar salah tidak tergantung orang dan tempat.  Seperti. 10+5 = 15 itu benar tidak tergantung siapa orangnya dan dimana tempatnya.
Yang tergantung orang atau kelompok orang,  adalah baik buruk,  seperti kumpul kebo di Indonesia dianggap perilaku buruk,  tetapi di banyak negara Barat itu biasa. Baik buruk  termasuk salah satu pendapat emosional.

Nah kapan kita boleh menyalahkan dan kapan kita boleh menghina.

Semua pendapat yang terkait dengan keilmuan atau kepentingan publik atau kepentingan kantor, negara,  itu memang pendapat yang layak atau boleh di kritik atau disalahkan. Karena, masalah publik kalau salah, segi apapun, berdampak akan merugikan orang banyak.
Untuk pejabat publik, untuk orang yang bekerja dikantor,  sangat perlu mengenal mana masalah  yang emosional dan mana yang rasional, untuk bisa bekerja secara lebih efektif dan terbuka. Bekerja tidak efektif akan menelantarkan tugas2 kantor dan bisa menghancurkan institusi. Kebijakan atau usul yang salah, tetapi tidak mau disalahkan, lalu berusaha dengan segala cara tetap mau memakainya, maka apa jadinya dengan institusi itu. Jadi depo kesalahan.


Mengapa  seseorang  tidak mau disalahkan ? Itu bisa karena dia merasa bos, gengsi  atau dia takut bakal malu, kehilangan wibawa. Alasan seperti itu emosional semua. Dia mencampurkan pola fikir emosional  dan rasional dalam urusan  publik atau kantor. Untuk bisniz dan masalah kantor seharusnya rasional.
Gejala seperti ini masih banyak terjadi, dimana orang mencampurkan urusan publik dengan personal, emosional dengan rasional.

Sekalipun ada yang menyalahkan atau mengkritik,  belum tentu yang disalahkan itu memang salah, bisa saja yang mengkritik justru yang salah. Tetapi kalau ada kritik maka bisa dibuka forum diskusi, debat,  beradu alasan atau argumentasi. Alasan dengan bukti (evidence) yang kuat yang bakal menang. Bukan yang punya pendukung yang banyak yang menang, bukan voting, tetapi materi pembuktian yang menyebabkan itu benar dan menang. Jadi kritik tidak dilawan dengan ditolak secara sertamerta atau apriori.

Perlu diingat bahwa berdebat itu bukan bertengkar.  Berdebat itu rasional dan bertengkar itu emosional.

Kalau masalahnya terkait kepentingan pribadi maka itu tidak otomatis boleh dikritik atau disalahkan, kecuali orang yang bersangkutan meminta pendapat kita. Misalnya cari pacar. Itu kan masalah pribadi dan banyak emosionalnya , senang, cinta, mangkel, hormat.  Kita orang luar cuma melihat saja. Coba bayangkan kalau ada yang beri komentar 'orang kayak gitu kok dipilih jadi pacar' .   Bisa saja nanti dijawab ' emangnya itu urusan kamu!' sambil marah.
Bagi orang lain, bukan orang yang terlibat pacaran,  dia tidak punya emosi rasa senang, ketertarikan terhadap mereka, dia hanya punya nalar alias rasio saja.  Oleh karena itu pendapat rasional sering tidak pas untuk masalah emosional. Pertimbangan rasional umumnya punya alat ukur yang lebih jelas. Yang emosional, tidak punya.

Sayang sekali sampai saat ini suasana forum2 debat,  belum seperti debat yang benar. Masih rebutan bicara, masih gebrak meja, bahkan diwarnai jotos2 an, lempar kursi.  Dan itu terjadi dan bukan monopoli di DPR kita tetapi juga di banyak DPR negara lain. Memalukan, karena di DPR seharusnya yang dimasalahkan adalah kepentingan publik seluruh rakyat, antar golongan. Tidak perlu ada adu jotos. Kalau sampai terjadi tinju meninju itu pastilah yang dibicarakan adalah masalah personal atau kepentingan kelompok dan pola debatnya pun emosional, maka jadilah pertengkaran.
Pimpinan sidang belum bisa memimpin forum rasional.

Untuk memulai perdebatan yang benar harus dipilih dulu masalahnya. Masalah yang diterima haruslah masalah publik (berguna bagi semua  kelompok, semua orang),  kalau itu hanya masalah personal, hanya kebutuhan satu kelompok saja, ya ditolak. Lalu berargumentasinya harus rasional, pakai pembuktian, serta alokasi waktu berbicara yang adil, tidak terlalu lama dan sama bagi setiap pembicara.

Seperti menggelar rapat staf dikantor , rapat DPR , rapat2 yang membuat kebijakan, semuanya bisa dibuat seperti itu. Jangan takut dengan istilah debat, karena debat itu sehat !

Jadi menyalahkan , mengkritik untuk masalah publik itu bermanfaat, itu kontribusi. Tetapi bukan untuk masalah personal. Masalah personal kan tidak dibawa ke rapat staf !  Kecuali kalau ada masalah yang seharusnya  personal sudah salah kaprah jadi masalah publik atau negara.

Lalu kapan kita boleh menghina? Tidak ada satu alasanpun yang membolehkan kita menghina. Menghina artinya dengan sengaja mau merendahkan harga diri seseorang. Menghina itu emosional yang didasari rasa benci.

Hindarilah salah mengerti, sehingga menyalahkan dianggap menghina. Padahal menyalahkan bukan menghina. Itu berbeda.

----------------------------------------------------------------------------------------- ------------

Email: This e-mail address is being protected from spam bots, you need JavaScript enabled to view it



--------------------------------------------------------------
  • Untuk memberikan komentar silahkan  klik register  pada Subcription  Form kami.  Setelah itu klik pada icon Write Comment dibawah ini.
  • Komentar tidak  lebih dari 700 Kata.
  • Komentar yang tidak relevan dengan artikel ini tidak akan ditayangkan.