Buku Bagus yang harus ada disetiap rumah, disetiap tas para remaja dan orang muda. Berharga sebagai kado perkawinan, hadiah ulang tahun, naik kelas, lulus sekolah dan lainnya.
Buku tuntunan melangkah dalam hidup ini.

Harga Rp.100.000,- per exp. ( + ongkos kirim ) 

dijual ekslusif, hubungi

Rational Thingking Surabaya
Jl. Jawa 2 Surabaya
Telp. 031-5014922
Email : This e-mail address is being protected from spam bots, you need JavaScript enabled to view it

Rational Thinking pwk Jakarta
Jl Semangka 31, komplek Kalibata Indah Jaksel
Telp. 021-7988204
Email : This e-mail address is being protected from spam bots, you need JavaScript enabled to view it

 

Subcription Form






Lost Password?
No account yet?

Bila anda mengisi
Register pada
Subcription Form,
akan mendapat
email pemberitahuan
artikel baru dari kami.

If you fill in the
Registration on the
Subcription Form,
you will receive 
emails announcing new
articles from us.

 
Home arrow Artikel
Berfikir Rasional PDF Print E-mail
Thursday, 10 January 2008

Berfikir Rasional di Ranah Publik.

 

Djohansjah Marzoeki

Apa itu berfikir rasional?
Berfikir rasional adalah berfikir menggunakan nalar atas dasar data yang ada untuk mencari kebenaran faktual, kegunaan dan derajat kepentingannya.
Berfikir rasional dipakai bila kita ingin maju, ingin mempelajari ilmu. Juga amat perlu bila kita bekerja untuk kepentingan orang banyak, masalah publik, dimana berhadapan dengan bermacam macam orang, tradisi dan kepercayaan, maka kita bakal punya alasan obyektif yang bisa ditunjukkan kepada orang banyak (transparansi), punya alat bukti, punya referensi, bisa diperdebatkan (argumentasi yang logik dan relevan) serta bisa dibandingkan karena punya alat ukur. Hal hal yang emosional tidaklah demikian. Berfikir rasional lawannya adalah berfikir emosional.

Berfikir emosional berguna untuk mendapat rasa senang. Bahagia dan kepuasan pribadi, yang didasari selera. Tolok ukur selera berbeda pada setiap orang, sesuai tingkat senang dan tidak senangnya seseorang, itu artinya tidak universal. Berfikir emosional menjadi dasar ikatan-ikatan emosional, dan tindakan tindakan emosional. Tetapi sukar dimengerti orang lain.
Disini tidak perlu ada fakta atau sesuai fakta, atau pembuktian, cukup dugaan, simbol, atau rekayasa atau fantasi yang keluar dari rasa senang tidak senang, suka tidak suka, benci, sayang, penghormatan, percaya, kagum, respect, persahabatan, kekeluargaan dll. Misalnya si A bisa begitu cinta (=emosional) kepada seseorang atau suatu ajaran tetapi orang lain tidak habis pikir mengapa dia bisa begitu tergila gila dengan orang itu atau ajaran itu.

Cara berfikir spiritual, yang keluar dari keinginan tahu, kagum, juga sangat penting untuk menimbulkan inspirasi, motive dll. Berfikir spiritual, filosofis merupakan kegiatan awal, untuk dijabarkan lebih lanjut melalui pola fikir rasional maupun emosional. Hanya saja bila motive dan rencana itu berhubungan dengan kepentingan publik atau akan dijalankan diranah publik maka perlu pertimbangan lain yang rasional. (Berfikir spiritual dalam pembicaraan disini, saya jadikan satu dengan yang emosional, karena sama sama tidak harus ada data faktual atau pembuktian).

Apakah berfikir emosional itu salah atau tidak baik?
Masing masing punya manfaat dan tempatnya yang sesuai.
Jadi untuk kepentingan dan kesenangan pribadi atau kelompok yang punya kepentingan sama, bisa bertindak emosional dengan cara berfikir emosional.
Tetapi dalam masyarakat yang luas, yang berbaur , yang bhineka maka kita harus bertindak dengan menggunakan cara yang rasional, supaya bisa dimengerti dan bisa diikuti alur fikirnya oleh orang banyak.
Kita menghargai masing masing orang atau kelompok orang, yang Bhineka itu. Dengan cara berfikir emosionalnya, budaya kelompoknya dalam wadah personal domain, tetapi kitapun harus menjunjung tinggi kepentingan bersama, kepentingan seluruh macam orang dinegara ini berupa kebijakan Tunggal, tidak memihak, dengan berfikir yang rasional dalam wadah public domain. Demikianlah secara prinsip, kita haruslah mengenal pemisahan antara kepentingan publik tidak tercampur dengan kepentingan personal.

Kegiatan emosional tetapi tidak berbahaya bagi publik, tidak mengganggu aktifitas publik, sebaliknya malah bisa menggembirakan publik seperti pementasan budaya, seni, tentu yang demikian, boleh berada di ranah publik. Kadang-kadang justru kepentingan /kegiatan publik terpaksa mengganggu kepentingan personal, seperti pelebaran jalan, kalau itu memang harus dilakukan, maka harus diberikan kompensasi.

Berfikir emosional bisa untuk dirinya sendiri atau kelompoknya sendiri (di personal domain). Tentu diapun bisa juga memakai cara berfikir rasional ini untuk dirinya sendiri atau kelompoknya bila ingin maju. Sedangkan yang rasional dia harus pakai dalam posisinya sebagai anggota masyarakat yang bhineka di public domain.

Dengan mengenal kedua pola berfikir dan kedua ranah ini maka kita akan bisa menempatkan diri. Pola berfikir dan tindakan yang mana yang cocok untuk urusan pribadi dan mana yang cocok untuk urusan publik.

Kiranya ini menjadi sangat penting untuk menjaga ketertiban masyarakat agar tidak jatuh dalam anarki, korupsi, nepotisme dan terorisme . Anarki dan terorisme hanya terjadi bila kepentingan pribadi atau kelompoknya mau dipaksakan ke kelompok lain (masuk dalam domain personal lain) atau kedalam domain publik .
Sedangkan Korupsi dan Nepotisme terjadi bila mereka, para pejabat publik, menggunakan fasilitas publik atau fasilitas negara, untuk kepentingan pribadinya, atau kelompoknya (keluarga dan kroninya). Masih tercampur.

Kepentingan publik haruslah sesuatu yang berpotensi dibutuhkan orang banyak, artinya oleh setiap orang anggota, atau setiap kelompok masyarakat, lintas kelompok, di domain publik itu. Misalnya keamanan, jalan raya pastilah dibutuhkan semua orang. Kalau sampai ada satu kelompok saja dalam domain publik yang tidak membutuhkan masalah itu, maka masalah itu tidak bisa disebut sebagai masalah publik, tetapi itu adalah masalah pribadi atau personal.

Produk negara, kegiatan kenegaraan, serta cara-cara negara, seperti pemilihan umum, adanya partai politik serta undang undang seharusnya adalah hal hal yang melulu kepentingan publik , kepentingan seluruh lapisan masyarakat yang bhineka tunggal ika. Bukan berorientasi kepada kepentingan kelompok. Kalau yang terjadi adalah kepentingan kelompok, maka kegiatan negara ini seolah olah hanya milik kelompok tertentu, milik rejim tertentu.
Tetapi karena pengertian personal issue , public issue dan personal domain serta public domain belumlah kuat , belum membudaya, maka banyak hal hal yang sifatnya personal atau kelompok atau kedaerahan, sampai saat ini masih berkecimpung dalam public domain, dalam bentuk undang undang, peraturan atau tradisi pejabat.

Reformasi yang digebrak tahun 1998 mempunyai slogan hapuskan KKN (Korupsi, Kolusi dan Nepotisme) adalah gambaran betapa hebatnya waktu itu masalah personal issue masuk dalam public domain. Kepentingan personal para pejabat masuk menjadi urusan negara.
Tetapi saat itu para tokoh reformasi, pimpinan politik dan negara belum mampu menerjemahkan reformasi sampai ke akarnya yaitu menghindari tercampurnya masalah personal masuk public domain.
Sampai saat ini belum ada suatu produk hukum yang keluar, yang mengatur secara umum untuk melarang personal issue masuk dalam public domain .Maka menurut hemat saya tujuan reformasi itu macet, KKN masih berjalan terus.
Jadi, Reformasi bukanlah kebablasan. Kalau kebablasan artinya kita pernah sampai dan keluar menembusnya. Yang ada adalah kita belum pernah sampai.

Tampaknya kita sudah terlalu lama dan sudah terlalu jauh meninggalkan prinsip penting dalam bernegara, yaitu berperilaku menempatkan masalah apa ditempat mana, secara benar, bukan menempatkannya secara acak .
Bila saja kepentingan kelompok tertentu dapat prioritas dipublik domain, itu akan menimbulkan rasa diskriminatif, rasa iri, mengusik rasa keadilan. Kita akan sukar bersatu, aman dan maju. Maka tidak ada pilihan lain dari pada mengubah perilaku ini sampai ke dasarnya. Kepentingan kelompok seharusnya diurus sendiri oleh kelompoknya.
Perubahan perilaku yang didasari penempatan pola pikir itu menjadi infrastruktur pembangunan mental bangsa.dalam menhadapi masalah publik.

Infrastruktur-fisik adalah jalan raya, energi (listrik mis), air bersih, terminal bus, kapal laut, kapal terbang. Kalau itu sudah tersedia dengan baik, maka pembangunan fisik seperti industri, perdagangan, dll akan mudah.. Kita mudah maju. Begitu pula infrastruktur mental dalam hal ini memakai berfikir rasional diranah publik, akan memudahkan para pejabat publik membuat keputusan yang benar, begitu pula seluruh bangsa ini bisa mengontrol perilaku para pejabat, bangsanya dan dirinya sendiri secara benar. Kita mudah bersatu, makmur dan maju.

Sungguh prihatin dinegara ini masih saja tampak kejadian diranah publik orang bentrok keroyokan satu kelompok dengan kelompok yang lain, demo yang brutal, anarki, menggambarkan perilaku emosional diranah publik, menunjukkan masih rendahnya infrastruktur mental ini. Bahkan digedung DPR, gedung negara untuk memecahkan masalah negara masih ada yang membentuk kubu, fraksi, poros. Yang begini pastilah akan berorientasi pada kepentingan kelompoknya, bukan kepentingan rakyat pada umumnya. Ini menunjukkan belum membudayanya pemikiran diatas bagi kebanyakan orang dan para pejabatnya.

Tanpa pengertian yang menyeluruh dan membudaya, dibangsa ini kita akan sukar untuk berubah.
Oleh karena itu untuk bersatu, aman, makmur dan maju tidak ada pilihan lain daripada mengembangkan prinsip ini dalam system yang kuat, dilaksanakan dengan kepimpinan yang bersih serta dijaga oleh aparat yang tangguh.
Semoga,……
 
-----------------------------------------------------------------------------------------------------
 

THINKING RATIONALLY IN PUBLIC DOMAIN

Djohansjah Marzoeki 

 

What is rational thinking?

Rational thinking is a way of thinking using  reasoning based on available data to seek the factual truth, advantage and degree of importance.  We must use rational thinking if we want to advance and wish to pursue science.  Moreover, it becomes indispensable if we want to work for the public’s interest, solve public issues, where we meet various types of people, traditions and beliefs; thus, we will have objective reason that is presentable to the public (transparent), proofs, references, which are debatable (with logical and relevant argumentation) and comparable by the availability of measuring tools. Emotional matters are not so.  The antagonist of rational thinking is emotional thinking.

Emotional thinking is necessary for gaining contentment, happiness and self-satisfaction based on personal taste.  The standard of taste differs among each individual, according to the person’s level of fondness and dislike, therefore it is not universal.  Emotional thinking becomes the foundation of emotional bondages and emotional acts.  However, it is difficult to be perceived by others.

Herein, facts or accordance with facts or proofs are not required, instead it is enough to have thoughts, symbols, or concoctions or fantasies arising from feelings of fondness or dislike, hatred, affection, reverence, trust, adoration, respect, friendship, family intimacy, etc.  For example, the person A can be so much in love (=emotionally) with someone or a teaching even though others can not comprehend how can he be so crazy about that person or teaching.

Spiritual thinking which arises from queries and  admiration, is also essential to generate inspiration, motive etc.  Thinking spiritually and philosophically is an initial activity, to be elaborated further by both rational and emotional ways of thinking.  Nonetheless if the motive and plan are associated with public interest or will be executed in public domain, then another consideration which is rational becomes necessary.  (In this discussion, I classify spiritual thinking and emotional thinking into one group, because in both cases factual data or proofs are not mandatory).

 Is emotional thinking wrong or bad?

Each has its use and place accordingly.

Therefore, in order to gratify the need and desire of oneself or a group with the same interest, then one can act emotionally by thinking emotionally. 

However in a various societies  which intermingles, yet is diverse then we have to act by using rational ways in order to be intelligible and to have our way of thinking comprehensible by the public.

We respect every individual or group of people, who are diverse in the way they think emotionally, in the cultures of their groups, within the scope of personal domain, but we also have to honor common interests, accommodating the interests of all kinds of people in this country, with the establishment of  a Single policy, impartial, by thinking rationally within public domain.  Hence principally,  we have to distinguish public interest from personal interest.

On the other hand, emotional activity which does not pose danger to the public, does not disturb public activity, such as cultural and art performance, can enliven the public; certainly such activities may be performed in public.  Sometimes, on the contrary, public activity unavoidably disturbs the individual’s interest, such as the widening of streets, in which case compensation has to provide for the injured party.

Emotional thinking can be for the purpose of the individual or of his own group (within  personal domain).  Indeed, he can also use rational thinking personally or for his group in order to advance.  Whereas he must use the rational way in his position as a member of a diverse society in public domain. By identifying these two ways of thinking and these two domains, then we will be competent to place ourselves.  We can determine which way of thinking and activity are suitable for personal purposes and which are appropriate for public purpose.

 Apparently this becomes crucial in maintaining order in the society to prevent it from plunging into anarchy, corruption, nepotism and terrorism.  Anarchy and terrorism occur only if one’s personal or his group’s interest is enforced on another group (trespassing into another’s domain) or into public domain.Whereas corruption and nepotism occur if the public officials use public facilities or state facilities for personal gain or the advantage of their group (family and their associates).  There is no line of separation. 

Public interest needs to be potentially required by the multitude, i.e. by every member, or group in the society, inter group within the public domain.  For example, security and road construction definitely are needed by all.  Even if only one group within the public domain does not need the matter, then such matter can not be called a public matter, instead it is a private or personal matter.

State product, state activity and state policies, such as general election, the establishment of political  parties and laws, should always be matters of public interest, the interest of all levels of society which are diverse yet one.  They should not be oriented on group interest.  If a group’s interest overcomes, consequently as if to serve one particular group, one individual regime.

Nevertheless, since the meaning of personal issue, public issue and personal domain is not yet fathomed and not a common knowledge, then until the present day many matters pertaining to individuals, groups, or ethnics are still involved in public domain, in the form of laws, regulations or attitude of officials.

 

The reformation that was instigated in the year 1998 carried the slogan ‘annihilate KKN’ (Corruption, Collusion and Nepotism), demonstrating how gravely personal issues  trespassed into public domain.  The personal interests of government officials became the burden of the state.

However, at that time, reformists, political and state leaders were not capable of translating reformation down to its roots i.e. precluding  the contamination of public domain with personal matters.

Up to the present day, no law which generally arranges that personal issue be prohibited from entering public domain, has yet been established.  Thus according to me, the objective of reformation is stagnant, ‘KKN’ still flourishes.

The fact is we have never arrived there. 

 

Seemingly, we have gone too long and too far from the important principle of living as a nation, which is maintaining the character of placing the right matters in the right places and not randomly.

In the event that the interest of a certain group becomes a priority in public domain, feelings of being discriminated and jealousy will arise upsetting the assurance of justice.  It will be difficult for us to be  united, be secure and to advance.  Thus, we are left with no choice but to change this character to the point of uprooting it.  Group interests should be managed by the group itself. 

The change in character based on fixing such way of thinking becomes the infrastructure of our nation’s mental development in overcoming public issues.

Physical infrastructures are roads, energy (for example electricity), clean water, terminal of buses, ships and airplanes.  If those are well provided, then physical development such as industry, trade etc. is facilitated.  We can advance easily.  Likewise, mental infrastructure, in this case by practicing rational thinking in public domain, will facilitate state officials to make the right decision.  Moreover, the whole nation will be able to control the character of their leaders, their nation and themselves rightfully.  We easily unite, grow prosperous and move forward.

Unfortunately in this country, there are still outbreaks with groups of people attacking other groups, brutal demonstrations, anarchy in  public domain, revealing that the existent mental infrastructure is still low.  Moreover, in the House of Representatives, the state house supposedly used to solve problems of the state, there remain those who form factions, “kubu”, “poros”.  These will ultimately be oriented to interests of groups and not of the people in general.  This shows that the above-mentioned way of thinking has not yet been generally adopted by the majority and by the government officials.

Without complete and widespread understanding, we will find it strenuous to change in this country.

Therefore, in order to be united, secure, prosperous and to progress, there is no other choice but to develop this principle in a solid system, executed by a clean government and defended  powerfully.

Hopefully,......

 
-----------------------------------------------------------------------------------------------------
Comments
kirimbebas - setuju   | 125.164.200.94 | 2008-03-28 12:59:32
Banyak orang bergelar profesor, doktor, dokter, insinyur, sh, MM, Mhum, dan sebagainya - katanya pinter, mengaku ahli di bidangnya. Faktanya? Banyak bung. Lapindo? berakhir menjadi sebuah bencana besar. Mulai pemanfaatan proyek (dari rt, rw, lurah, bupati, dpr, pejabat, akedemisi, ahli bor, dsb) ikut menikmati bancaan duit. Duit, duit, duit - siapa mau duit? Para kreditor BI ? Koruptor yang nampak dan yang tak terekspose? Munir? Sejarah Supersemar? waduh tidak ada yang tuntas bung. Belum lagi bisnis orang sakit. Tak lagi mengedepankan aspek sosial. Merem, yang penting masuk ke mesin pencetak uang. Semua dianggap sama rata dan sama rasa. Rasanya duit, duit, duit. Ini fakta yang ada. Semua individu (Pemimpin dan calon pemimpin) pingin populer. Tapi tidak sebanding dengan actionnya (program yang dilakukan), lips service, omong kosong, hanya terlihat wah tatkala untuk kepentingan penggalangan masa. Seperti apakah potret masa depan bangsa ini? Sebab aset bangsa 3/4 telah tergadai kepada pihak lain (swasta, pihak asing, dan sekelompok tertentu). Kepada rakyat (seluruh hajat hidup rakyat indonesia) nasibnya bagaimana? Keadilan? Kejujuran dan ketulusan? Kesungguhan?
Kalau bung punya saran, mewakili orang sebagai orang pinter (berwawasan dengan pendidikan yang matang), bagaimana kita bangkit dari degradasi mental seperti saat ini. Mohon kami diberi penjelasan yang logik, realistis, mudah dilakukan, universal, tukang becakpun bisa melakukannya.
Thank you bung. Saya salut masih ada orang yang masih bisa berpikir seperti anda. Soalnya kawan saya sri bintang pamungkas pun sudah tak pernah bersuara lagi seperti anda.
davidsp - berpikir personal atau publik?   | 125.164.200.94 | 2008-03-28 12:59:54
Artikel ini sangat jelas menyampaikan pembedaan cara berpikir untuk kepentingan personal/kelompok dan masyarakat/publik. Andai saja di negara ini banyak pihak yang bisa meletakkan dasar pemikiran personal dan publik sesuai pada tempatnya, tentunya kita bisa banyak berharap dapat terwujudnya masyarakat adil dan makmur.
deka - interesthing to do   | 125.164.200.222 | 2008-03-28 13:00:34

mungkin selama ini saya termasuk orang yang berpikir lebih emosional dari pada menggunakan rasio.
dan itulah mengapa saya merasa selalu ada yang kurang setiap saya bekerja.
finally alhamdullilah ketika pagi tadi saya membaca jawapost sambil coffe morning dengan rekan kerja saya, saya membaca salah satu rubrik mengenai anda. dari situlah saya langsung tertarik dengan artikel anda. terima kasih semoga ini menjadi awal yang baik bagi kemajuan saya.
beegee - berpikir rasional di ranah pub   | 125.164.200.222 | 2008-03-28 13:00:50
Sangat jarang ditemukan orang-orang yang masih bisa dan mau berpikir rasional. Kebanyakan hanya berpikir emosional karena untuk kepentingan diri maupun kelompok atau golongan. Mengapa? Karena ada kepentingan tertentu yang mungkin untuk mendapatkan keuntungan baik berupa materi ataupun non materi yang pada ujung ujungnya mendatangkan keuntungan materi.
Sebenarnya banyak potensi pemikir yang rasional dan berguna bagi kepentingan bangsa. Tidak adanya sarana untuk menyalurkan, karena tidak ada faedah komersial bagi sarana penyalur, maka tidak ada tempat penyaluran.
Terimakasih.
trafick56 - berpikir spiritual   | 125.164.200.222 | 2008-03-28 13:01:05
Zaman sekarang untuk berpikir secara Rational memang betul betul sangat sulit dan semuanya itu mungkin karena tingkat
kebutuhan ekonomi yg semakin tinggi sehingga secara tidak sadar rational seseorang kurang begitu jalan, justru itulah di kalangan masyarakat bawah sering dimanfaatkan oleh yg dikatakan Ahli Spiritul (Dukun). jadi menurut saya yg namanya Rational Thingking perlu di Sosialisasikan di sekolah sekolah. Trima kasih
Di jaman sekarang memang sangat sulit untuk menggunakan pikiran secara rasional apalagi dng tingkat kebutuhan Ekonomi yg semakin tinggi terutama pada
masyarakat bawah yg sering mengambil jalan pintas dng mengandalkan yg dikatakan yaitu ahli Spiritual, pada hal blm tentu yg namanya ahli spirituail itu Rational Thingking nya OKE. jadi saya sangat berterima kasih atas GAGASAN Bpk Djohan yg tampil di Jawa Pos.
Sekian Terima Kasih
carrisa2511 - mungkin perlu waktu   | 125.164.200.222 | 2008-03-28 13:01:27
Pada dasarnya berfikir secara rasional menurut saya, butuh kesadaran diri yang tinggi mengenai "siapa" kita atau saya dengan begitu kita akan menyadari dan saling mengerti apa yang akan kita lakukan tetapi untuk menjadi rasional............ ehm mungkin butuh waktu
Tapi pola pikir rasional adalah pola pikir yang bisa membuat kita lebih mebuka diri dan lebih intropeksi terhadap diri kita.
nosi - berpikir rasional   | 125.164.200.222 | 2008-03-28 13:01:43
memang susah tapi harus....
santi_p - liberal thinking   | 125.164.200.222 | 2008-03-28 13:02:15
berpikir rasional apakah sama dengan berpikir liberal? liberal biasa bertabrakan dengan yang fundamental, dianggap sesat, menyimpang, dll contohnya ya muslim liberal di negara kita itu yang sering dicap sesat, antek zionis, dll
artha - untitled   | 125.164.200.222 | 2008-03-28 13:02:35
selamat pagi pak djohan.
saya artha mahasiswa hukum UBHARA surabaya.saya punya pandangan bahwa ketika pemerintah tidak bisa memenuhi/melindungi bahkan menjamin apa yang menjadi hak-hak rakyat maka pemerintah itu harus diganti(teori kontrak sosial).menurut tanggapan bapak??
kenapa sih kepentingan rakyat kok selalu di anak tirikan oleh kepentingan negara?bukankah yang berdaulat itu rakyat bukan negara??
djoko - BRAVO   | 125.164.200.222 | 2008-03-28 13:02:58
Pleg ! atau nyaris persis pleg dengan prinsip ( cara pandang saya ) semua yang ada dalam penjelasan-penjelasan anda.

Hanya saja mungkin dalam pengertian bahwa berpikir rasional itu harus punya ( bukti ) berupa ukuran-ukuran, maka ukuran itu terkadang tidak mutlak harus "njlimet / data yg rumit atau sophisticated". Tergantung kasusnya, kadang cukup dengan cara mengukur atau angka-angka yang sederhana, tapi kadang bisa juga kasus baru bisa dibuktikan dengan pengukuran yg "sangat dalam".

Merasa punya cara pandang yang sama, apakah anda juga merasakan seperti yang kadang saya alami, bahwa berpikir rasional dinegara kita , masih sering "mengundang banyak musuh" ( banyak pihak lain yang sinis, menertawakan , menuding negatip terhadap kita dsb. ).

Saya punya banyak tulisan lama semacam prinsip anda ( memotivasi kekebasan berpendapat, mendasarkan premis-premis untuk membangun logika dsb ). Sayang filenya agak panjang-panjang & repot kalau harus diketik ulang.

Kalau boleh dapat alamat e-mail Japri ( direct ) mungkin bisa mempermudah kirimkan sharing saya.

Salam,
Djoko
johan - jawaban untuk artha dan santi   | Super Administrator | 2008-03-28 13:03:18
Jawaban untuk artha dan santi

Jawaban u Artha.
Perlu dibedakan “rakyat” dan “masyarakat”. Rakyat adalah seluruh lapisan masyarakat, lintas kelompok dalam Negara. Sedangkan masyarakat adalah sekelompok orang dengan ciri tertentu atau tujuan tertentu. Kepentingan Negara mestinya adalah kepentingan rakyat atau kebijakan Negara hanya untuk rakyat , bukan untuk kepentingan masyarakat tertentu atau rejimnya. Djo.

Jawaban untuk Santi_p.
Pemikiran liberal adalah berfikir diluar cara cara baku atau standar dalam masyarakat conservative atau fundamental. Conservative atau fundamental menghendaki selalu yang sudah baku atau sudah men-tradisi. Liberal lebih tolerans dan menghargai pendapat seseorang. Pendapat itu bisa rasional maupun emosional. Ini ada kaitannya dengan artikel pertama tentang Kebebasan Berpendapat dan Berbicara.Djo.
pakun - hehehe   | 125.164.200.222 | 2008-03-28 13:03:37
mas ada tema luwih enteng n gelo gak?
tak tunggu esai tentang penghibur
mamas - Berfikir Rasional   | 125.164.200.222 | 2008-03-28 13:04:03
Alhamdulillah..setelah baca jawa pos .saya barusan baca artikel pak Djohansyah di internet..terima kasih pak..integritas dan ide cemerlang bapak sangat bermanfaat bagi rakyat dan negeri ini..moga makin banyak yang sadar untuk bisa memecahkan setiap masalah "bangsa" dan berjuang demi "bangsa" secara konstruktif melalui hasil dan sumbangan pemikiran yang rational..amien
fhutomo - Setuju   | 125.164.200.222 | 2008-03-28 13:06:13
Sebelumnya perkenalkan saya Fadjar Hutomo, profesional keuangan di Surabaya.
Saya pernah satu kelas dg Profesor pada sebuah workshop PASAR MODAL di Graha Pena. kalo tidak salah tahun 2004.
Saya sangat setuju dengan gagasan Profesor untuk menyebar luaskan semangat berpikir rasional. Agar rakyat kita tidak dibodohi terus menerus oleh para elit politik dan hanya jadi tunggangan untuk kepentingan sesaat.

RATIONAL THINKING + HATI NURANI = INDONESIA EMAS
djohan - bagaimana menimbulkan keingina   | 125.164.200.222 | 2008-03-28 13:05:57
Salam hormat prof. Djo, saya sangat senang dan sependapat dengan artikel prof, cuma saya sering berpikir, bagaimana membuat seseorang ingin berpikir rasional? banyak orang yang pintar ( mempunyai gelar akademis yang bergengsi; dr/DR/Prof./MBA/SH/Ir,dll) tapi masih lebih suka berpikir emosional, juga banyak pejabat tinggi negarapun masih memilih cara erpikir emosional, sehingga saya berpikir kenapa? mungkin karena belum mengetahui bahwa orang selevel mereka seharusnya lebih dominan menggunakan pikiran rasional, mungkin sudah tahu tapi tidak tahu/ lemah mengendalikan pikirannya, mungkin juga karena conflict of interest. m
Mungkin prof mempunyai jawaban untuk itu sehingga kita bisa mengajak bangsa kita untuk menyadari pentingnya berpikir rasional dan berlatih untuk berpikir rasional
NGTR   | 125.164.200.222 | 2008-03-28 13:04:39
Saya tunggu apakah prestasi anda di bidang rational thinking segemilang prestasi anda sebagai dokter bedah plastik.
davidsp - Pertanyaan   | 125.164.200.222 | 2008-03-28 13:04:27
Selamat pagi. Menyangkut istilah kelompok dan publik. Kita sebut kelompok bila lebih dari satu dan mempunyai karakteristik/kepentingan yg relatif sama, misalnya: kelompok pemuda, kelompok pegawai,
kelompok petani dll.. Pengertian kelompok bisa kecil bisa juga besar. Hal ini penting untuk bisa membedakan suatu kelompok bisa bicara mengatas namakan publik. Diperlukan batasan yang jelas misalnya rakyat Indonesia pada satu sisi dapat dianggap sebagai publik tapi bagi masyarakat internasional dapat dianggap sebagai kelompok besar, demikian pula ASEAN, ASIA, EROPA dll karena mempunyai kepentingan yang berbeda bisa saja saling menganggap sebagai kelompok. Lalu bagaimana dapat menjelaskan bahwa istilah publik yg kita maksud tersebut universal tidak bersifat kelompok. Sehingga tidak keliru bahwa kita menganggap ini untuk kepentingan publik tapi dianggap sebagai kelompok.Terimakasih (davidsp)
johan - Jawaban untuk david sp   | Super Administrator | 2008-03-28 13:04:14
Memang pengertian Publik dan Kelompok(=personal) adalah relative. Publik yg kecil misalnya kantor Bedah di suatu Rumah Sakit. Maka masalah publik dikantor Bedah itu haruslah sesuatu yang dibutuhkan atau berpotensi dibutuhkan oleh setiap anggota dari kantor itu. Kebutuhan yang khas di kantor Bedah (= masalah publik-kecil Bedah) itu akan menjadi masalah-kelompok dalam perspektif publik-Rumah-Sakit. Demikianlah seterusnya untuk ukuran negara bahkan untuk ukuran dunia seperti PBB urusan Indonesia menjadi hanya sebagai urusan kelompok. Kebijakan badan PBB haruslah yang berpotensi dibutuhkan oleh banyak negara yang menjadi anggotanya. Jadi pengertian publik , tetap konsisten yaitu yang terkait dengan kebutuhan seluruh anggota badan atau institusi itu. Atau disebut lintas kelompok bila didalam ranah publik itu terdapat banyak kelompok masyarakat..
. Kebutuhan kelompok akan selalu saya sebut juga sebagai kebutuhan personal.
Jadi satu masalah publik akan otomatis berubah menjadi masalah personal, bila dibawa dalam forum yang lebih luas.

Dengan mengerti kita sedang berada di forum yang mana maka kita bisa mengerti masalah mana yang layak dan tidak layak kita ajukan atau laksanakan. Masalah personal , apalagi yang mengganggu kelompok lain pastilah tidak layak dibawa ke ranah publik.

Memang masih banyak kelompok masyarakat dalam ranah negara, yang belum memahami kalau masyarakat itu hanyalah kelompok saja dan tidak mewakili rakyat. DPR secara resmi adalah institusi yang mewakili rakyat. Keputusan DPR haruslah mencerminkan kepentingan rakyat. Menjadi aneh kalau namanya Dewan Perwakilan Rakyat, tapi membuat kebijakan yang hanya kepentingan kelompok atau rejim tertentu saja.


magic - WELL...   | Registered | 2008-04-05 12:54:24
Butuh KEDEWASAAN untuk melakukannya. Tidak mudah..t.api ini yang benar. bayangkan kita dapat berdiskusi dnegan orang lain dnegan tema2 sensitif tanpa emosi. Murni berdasarkan fakta dan fakta, serta pengambilan keputusan berdasarkan fakta.MURNI HASIL ANALISA BERDASARKAN FAKTA bukan berdasarkan EMOSI/KETERSINGGUNGAN/LIKE&DISLIKE.

Well, jujur...istri saya saja tidak bisa saya ajak diskusi model begini. Terlalu berat!
johan - Tanggapan Untuk Magic   | Super Administrator | 2008-04-07 01:12:48
Berfikir rasional seperti judulnya terutama untuk masalah publik di forum publik, seperti di forum diskusi, forum debat atau dikantor untuk kepentingan publik. Kalau untuk bicara dg istri lebih enak dengan memakai baik cara rasional dan emosional. tidak harus selalu rasional.
magic - Re: Tanggapan...   | Registered | 2008-04-09 22:06:09
Benar saya setuju. tetapi kadang kita perlu melakukan diskusi seperti ini dalam kehidupan personal agar lebih cepat mengambil keputusan yang bermanfaat tanpa harus melewati JUTAAN SAMPAH EMOSI yang sering membuat kita tidak fokus pada penyelesaian masalah malah sibuk mendiskusi EMOSI PENYERTA.

Setidaknya, pola berpikir seperti ini sangat membantu saya untuk mengambil keptusan yang cepat dan "relatif" lebih Obyektif.
Only registered users can write comments!

Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved.

 
< Prev   Next >

Sekilas Artikel

Ratu Adil  Itu Bukan Manusia
Masih banyak dijumpai orang orang yang bermimpi lahirnya Sang Ratu Adil yang membawa misi dari para dewa sebagaimana yang ada dialam kepercayaan.
Read more...
 

Kebebasan Berbicara

Katanya disetiap negara demokrasi, rakyatnya mempunyai kebebasan berpendapat berbicara dan berorganisasi.  Apa artinya? 

Read more...
 
Kapan Kita Boleh Menyalahkan  dan  Menghina ?
Djohansjah Marzoeki


Masih banyak orang yang tidak dapat membedakan antara Menyalahkan dan Menghina, sehingga menyalahkan, dianggap sekaligus menghina. Padahal maunya hanya menyalahkan dan sama sekali tidak bermaksud menghina. Itu terkait dengan belum bisanya membedakan dalam menerima  pendapat mana yang rasional dan mana yang emosional.
Read more...
 

Koruptor Kok Minta Dibilang Bermoral.!?

Perlu "prepared mind". Seperti dikatakan Louis Pasteur 1854“… chance favors only the prepared mind “

Read more...
 

Apa yang dimaksud kebenaran?

Pertanyaan seperti itu pernah saya tanyakan pada diri saya sendiri beberapa puluh tahun yang lalu dan saya tidak dapat dengan segera menjawabnya. Perlu beberapa hari untuk mencari definisi yang cocok secara umum.

Read more...
 
Dulu waktu anak2 aku  diberitahu kalau dalam tubuh kita itu ada Roh, katanya dialah yang membuat kita hidup dan mengendalikan hidup. Yang memberitahu begitu, aku sudah lupa entah siapa, mungkin mereka yang lebih tua dari aku, mungkin pula hanya teman-2 sepermainan.

Tetapi yang sumbernya pasti adalah guru agamaku di surau yang juga mengajar mengaji mengatakan kalau Roh itu kalau kita mati, dia akan meninggalkan tubuh kita untuk mempertanggunggung jawabkan apa yang sudah kita perbuat didunia itu di akherat didepan malaikat  dlsb.
Read more...
 
Dulu waktu anak2 aku  diberitahu kalau dalam tubuh kita itu ada Roh, katanya dialah yang membuat kita hidup dan mengendalikan hidup. Yang memberitahu begitu, aku sudah lupa entah siapa, mungkin mereka yang lebih tua dari aku, mungkin pula hanya teman-2 sepermainan.

Tetapi yang sumbernya pasti adalah guru agamaku di surau yang juga mengajar mengaji mengatakan kalau Roh itu kalau kita mati, dia akan meninggalkan tubuh kita untuk mempertanggunggung jawabkan apa yang sudah kita perbuat didunia itu di akherat didepan malaikat  dlsb.
Read more...
 

Melihat situasi negara dalam beberapa minggu terakhir   situasi begitu kacau,  banyak sekali yang menghujat Polisi, Kejaksaan, Anggodo, Anggoro,  masih ada lagi  tokoh-tokoh yang beredar seperti  Ary Muladi, Kusno, Bibit Chandra, Antasari, WW, Sigit, Bb Hendarso, DPR, Tim 8, organisasi massa, Mahasiswa, perorangan, dan  semua koran, semua TV ikut meramaikan alias mengacaukan.

Read more...
 

Banyak kantor dinegeri ini apakah kantor swasta, pemerintah bahkan negarapun  masih dikelola berdasarkan selera. Dimana mana  para staf dan pegawai berupaya sedemikian rupa  ‘Asal Bapak Senang (ABS)’, bukan  asal demi kepentingan kantor.

Read more...
 

Bagaimana Perempuan Berpakaian 

Beberapa minggu  yang lalu saya melihat di Newsweek, foto Angelina Jolly dan pasangannya melangkah masuk ruangan di festival film Cannes dengan mengenakan gaun panjang, nan indah dan pasti mahalnya, diiringi tepuk tangan para hadirin yang sudah ada sebelumnya.

Read more...
 

Sudah lama berselang seorang teman baik saya, yang biasa bicara macam macam  bagai layaknya seorang teman, suatu hari,  entah karena pembicaraan hari itu menghangat yang didasari  suatu  perbedaan pendapat , dia  berkata “ kalau orang respek pada anda itu jelas tapi kalau orang suka pada anda , itu belum tentu ! “ Apa jawab saya ?  “Ya, saya tahu tidak semua orang suka padaku.”

Read more...
 

Didalam dunia ilmiah controversial bukan hal yang jelek tetapi sesuatu yang dihormati,  honorable sebagai suatu kontribusi. Dan orang orang yang mudah melontarkan pendapat controversial bisa merupakan partner berdebat  yang sangat berharga dan handal. Dari berdebat dengan mereka inilah kebenaran semakin dapat lebih ditegakkan. Tentu saja debatnya debat ilmiah/rasional bukan bertengkar atau  “debat kusir”.

Read more...
 

Disini saya beri nama Intermezzo1, sebagai selingan di web ini, karena cerita semacam ini diluar objective dari web ini.                                                                                  

Didalamnya berisi suatu gambaran bahwa Emotional Thinking yang positif, empathy, saling membantu dan saling menghargai  merupakan sesuatu yang amat bermanfaat.
Read more...
 

Einstein yang Religius dan Atheist  

Seratus tahun yang lalu, tahun 1905, Einstein seorang diri dalam umur 26 tahun telah mengguncang dunia  dengan menghadirkan 6 karya ilmiah dalam satu tahun , yang mengubah pengertian kita dalam memandang alam dan sekitarnya.

Read more...
 

Charles Darwin. 

Daniel Dennets gurubesar filsafat dariTuff University di AS mengatakan kalau ada ilmuwan yang lebih besar dari Einstein dan Newton dia adalah Charles Darwin.

Read more...
 

Undang-Undang Anti Milintasi dan Anarki. 

Dapatkah Militansi dan Anarki dicegah dengan Undang Undang ?

Read more...
 

Hukuman Mati Bagi Pembunuh

Hukuman mati adalah hukuman terberat = capital punishment. Seseorang yang dijatuhi hukuman mati, berarti oleh Negara dia telah dianggap melakukan kejahatan yang amat parah, luar biasa.

Read more...
 

Arti Sebuah Fakta.

Fakta atau kebenaran faktual tidak harus  kasat mata, atau bisa diraba atau dengan alat indera kita yang lain. Tetapi dia adalah sesuatu yang keberadaannya dapat dibuktikan dengan cara dan hasil yang konsisten dan repeatable (dapat diulang).

Read more...
 

Krisis Per Bank-an dan Pasar Modal Bukan  Krisis Ekonomi.

Wall Street di New York kritis, pasar modal diseluruh dunia berguguran.Bursa Efek kita tutup berhari hari. Gawat !

Read more...
 

Pertanyaan Lebih Penting dari Jawaban

Suatu saat saya baca tulisan Einstein : ” Pertanyaan lebih penting dari jawaban’. Jawaban itu akan selalu ada di dunia ini kalau kita mau bertanya. Kita tidak akan menemukan apa apa kalau kita tidak pernah bertanya. ”

Read more...
 

NKRI Bali Bukan Milik 'Orang Bali'

Masih banyak dari kita belum dapat memisahkan mana yang milik publik atau masalah publik dan mana yang milik personal / grup atau masalah personal/grup.

Read more...
 

Dukungan. dan ‘Mind Set’ dalam Era Demokrasi

Punya gagasan tetapi tidak disampaikan melihat kekanan kiri dulu menunggu dukungan. Menerima atau tidak menerima sesuatu, menunggu dukungan, lalu melaksanakan atau tidak melaksanakan, menunggu dukungan.

Read more...
 

Yang Mulia sang Dokter

Masih banyak orang mencampuradukkan fungsi dokter dan rumah sakit. Dokter dan rumah sakit adalah dua isu berbeda. Fungsi dan prinsipnya berbeda.

Read more...
 
Mbah Marijan namanya meluap setelah dia meninggal, bagaikan meluapnya kawah gunung Merapi, yang katanya dibawah pengawasannya alias dia jurukunci nya. Koran dan diskusi di TV yang saya dengar di suatu malam, mbah Marijan dipakai sebagai sosok panutan  untuk seorang pemimpin yang mempunyai karakter dan mempunyai kemampuan. Kedua kata itu seolah olah merupakan kata kunci yang harus dipunyai dan menjadi syarat bagi seorang pemimpin.
Read more...
 
Apa itu berfikir rasional?
Berfikir rasional adalah berfikir menggunakan nalar atas dasar data yang ada untuk mencari kebenaran faktual, kegunaan dan derajat kepentingannya.
Berfikir rasional dipakai bila kita ingin maju, ingin mempelajari ilmu.  
Read more...
 
Kampus Rusuh

Suatu saat TV menyiarkan sekaligus 3 kampus di Medan, Yogya, Ambon rusuh, bentrok fisik. Melihatnya saya sangat prihatin.

Read more...
 
Ratu Adil  Itu Bukan Manusia
Masih banyak dijumpai orang orang yang bermimpi lahirnya Sang Ratu Adil yang membawa misi dari para dewa sebagaimana yang ada dialam kepercayaan.
Read more...